Rabu, 06 April 2011

Hemat dalam Pandangan Islam


"Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakannya dengan pertengahan, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari dia miskin dan membutuhkannya." (HR. Muslim dan Ahmad).

Bekerja dan berusaha adalah mulia. Bahkan Allah sangat mencintai orang yang senang bekerja dan berusaha (QS. Az-Zumar [39] : 39).

“ Katakanlah: "Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya Aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui”
Sisi lain Rasulullah pun memuji orang yang
bekerja sebagai ladang pahala dan ibadah. Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang pulang ke rumahnya di sore hari dan merasakan kelelahan karena kedua tangannya bekerja di siang hari, maka pada malam itu dia akan mendapat ampunan Allah SWT." (HR. Thabrani). Seorang menantu Rasulullah, Ali bin Thalib ra juga pernah mengatakan, "Bekerjalah kamu untuk dunia seolah-olah engkau hidup selamanya, dan bekerjalah kamu untuk akherat, seolah-olah kamu akan mati besok."

              Merujuk pada hadits di atas dan ucapan Ali bin Thalib di atas, jelas kiranya bahwa bekerja keras untuk mencari nafkah agar tidak menjadi beban orang lain merupakan karakter kuat seorang muslim.

              Islam mengajarkan bekerja merupakan kemuliaan. "Allah sungguh sangat mencintai orang yang berjerih payah untuk mencari yang halal." (HR. Al-Dailami). Dengan kata lain, berangkat pagi pulang petang dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga merupakan jihadnya seorang muslim. Rasulullah bersabda, "Sunggguh Allah mencintai hambanya yang bekerja. Barangsiapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka ia laksana seorang yang bertempur di medan perang membela agama Allah." (HR. Ahmad).

              Hadits tersebut merupakan bukti penghargaan Islam terhadap mereka yang senang bekerja serta menjauhi sikap malas. Ringkasnya, salah satu ajaran Islam yang mengesankan yaitu Islam tidak menyuruh umatnya menjadi pemalas. Bahkan sebaliknya, Islam adalah agama yang menuntun agar umatnya produktif dalam bekerja, berusaha dan beribadah. Keseimbangan ini merupakan bukti bahwa Islam merupakan agama universal.



Selain meningkatkan produktivitas, Islam pun mengajarkan umatnya agar terbiasa dengan pola dan budaya hemat. Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an surat Lukman ayat 34, "... dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan ndiusahakannya besok..." Konteks ini ditegaskan kembali dalam Al-Qur'an surat Al-Furqon ayat 67,

 "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."
Hidup hemat mestinya bukanlah suatu hal berat untuk dilaksanakan.
Hemat bukanlah hal yang kompleks, tapi suatu yang sangat sederhana. Dalam Islam secara tegas Allah Swt melarang kita untuk hidup boros. Allah Swt secara tegas melarang  kita
menghambur-hamburkan harta seperti ditegaskanNya dalam surat Al-Isra (17)
ayat 26-27.

Ayat 26: “ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, kepada orang-orang miskin dan yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur- hamburkan hartamu dengan boros”.
Ayat 27.  “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.
Ayat diatas menjelaskan bahwa dalam menjalani kehidupan, manusia dianjurkan untuk saling berbagai dengan sesama makhluk,karena harta yang Allah berikan kepada kita terdapat hak orang-orang miskin dan orang yang dalam perjalanan,kemudian Allah melarang kita untuk membelanjakan harta dengan berlebih-lebihan karena hal tersebut merupakan perbuatan syaitan. Bahkan Allah SWT menggolongkan manusia yang hidup boros sebagai saudara syaitan yang jelas-jelas syaitan merupakan makhluk yang ingkar kepada Allah dan abadi di neraka.

Berpijak dari beberapa ayat dan hadist di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa budaya hemat memiliki aplikasi yang sejajar dengan perintah Allah. Oleh karena itu setiap muslim perlu memahami pentingnya meningkatkan budaya hemat dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, hemat sebagai upaya menyimpan kelebihan setelah kebutuhan primer terpenuhi. Hemat tidak berarti kikir. Hemat adalah pola hidup pertengahan. Rasulullah pernah berdialog dengan Jabir, "Mengapa engkau berlebih-lebihan?" Jabir menjawab, "Apakah di dalam wudhu tidak boleh berlebih-lebihan, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Ya janganlah engkau berlebih-lebihan ketika wudhu meskipun engkau berada pada air sungai yang mengalir."
            
              Kedua, hemat sebagai modal untuk kemaslahatan generasi setelah kita. Hidup kita tak kan lama. Meskipun demikian, tidak berarti selama kita hidup seadanya. Karena Rasulullah pernah menyampaikan nasehat, "Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin. Mereka menerima kecukupan dari orang lain. Mungkin orang lain memberinya atau mungkin menolaknya. Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah dengan ikhlas karena Allah kecuali engkau akan mendapat pahala karenanya." (HR. Muttafaq 'alaih).

              Ketiga, hemat sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah. Karena sikap hemat merupakan perintah Allah, maka jika kita terbiasa dengan pola hidup hemat, sebenarnya kita tengah melakukan pendekatan diri dan melaksanakan perintah-Nya.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar